Cerpen “Pulang” Eps.1

19 12 2007

PULANG
Prank….
“Mama ndak mau seperti ini Pa!, Papa tidak pernah beri mama kesempatan. Apa-apa selalu mama yang salah. Mama pingin berubah, mama mau jadi ibu yang baik!” suara mama kera ssambil terisak.
”Cukup ma. Tiap hari mama selalu keluar rumah. Arisan lah, ke salon lah, inilah itulah. Doni jadi ga keurus. Papa capek. Papa malu. Kalau hari ini papa ndak bertindak, Doni pasti masih di penjara. Iya kan? Untung selama ini Doni belum pernah terlibat kasus. Kalau tidak, susah bagi papa buat bawa Doni pulang!” sahut Papa tak kalah kerasnya.
”Tapi Pa…
Aku muak dengan semua ini, pa dan ma Cuma bisa saling menyalahkan. Daripada disini lebih baik aku dipenjara. Tak perlu kudengar lengkingan mama, tak perlu kudengar bentakan papa. Aku…
Sendiri aku meringkuk di sudut kamar, kedua tanganku memeluk lutut. Kepalaku pening. Aku bosan dengan semua ini. Bagaimana aku bisa lepas. Bagaimana….
Tubuhku letih. Perlahan aku merasa tubuhku terasa ringan. Gelap. Pekat. Tiba-tiba aku berada di sebuah padang rumput yang luas. Hawa dingin membelai pipiku. Nyaman. Aku berlari berkeliling. Bebas. Terasa hilang semua beban yang kurasa. Namun di kejauhan terdengar keramaian. Aku tertarik. Dan tanpa kusadari kakiku telah beranjak kesana. Entah kekuatan apa yang membawaku. Semakin lama suara itu pun semakin keras terdengar.
Tapi aku tersentak. Yang kulihat tidak seperti yang kuharapkan. Disana pa dan ma tampak berdiri berharapan namun tatapan keduanya sungguh menakutkanku. Benci. Amarah. Tatapan yang selama ini belum pernah aku lihat. Aku muak melihat itu semua. Apalagi disana puluhan orang tampak bersorak seolah pa dan ma adalah suatu pemandangan yang menyenangkan. Langit yang semula cerah pun tiba-tiba berubah gelap diiringi suara petir yang menyambar. Perasaan muak itu terasa naik ke ubun-ubun dan tanpa kusadari aku pun berteriak dan berlari menghindar. Semua yang ada di tempat itu terkejut dan menoleh kepadaku. Pa dan ma yang semula saling tatap pun ikut berlaing dan berbalik mengejarku sambil berteriak memanggilku. Tak kuhiraukan panggilan mereka. Aku terus berlari dan berlari sambil kututup kedua telingaku. Saat itu yang tergambar dibenakku adealah keinginan untuk pergi-pergi sejauh mungkin, melupakan semua tentang mereka, pertengkaran dan apapun itu. Berharap aku bukan darah daging mereka. Aku terus berlari dan berlari. Teriakanku pun makin lama makin keras. Namun makin kucoba untuk menjauh seolah pa dan ma semakin dekat denganku. Tiba-tiba kurasa tubuhku terguncang dengan hebatnya. Letih. Lemah dan tak berdaya. Teriakanku pun semakin samar. Namun….


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar